GANGGA, nama panggung dari penyanyi-penulis lagu asal Jakarta, Gangga Kusuma, kembali merilis musik melalui 5 hours apart, 2017. EP berisi tiga lagu ini membuka babak baru dalam rangkaian perilisan album keduanya. Dengan “Moonlight” sebagai focus track, rilisan ini menjadi karya musik terbaru GANGGA sejak single “SHE” yang dirilis pada 14 November 2025.
Secara keseluruhan, EP ini mengikuti kisah seseorang yang berusaha memahami hubungan yang kini tak lagi bisa dijangkau. Ceritanya bergerak dari pengkhianatan dan rasa sakit karena ditinggalkan, menuju duka dan penyesalan setelah orang yang dicintainya tiada, lalu berlanjut pada kerinduan yang begitu dalam hingga batas antara kenangan dan imajinasi mulai kabur.
Alih-alih menawarkan akhir yang mudah, lagu-lagu dalam EP ini menggambarkan bagaimana cinta dapat tetap tinggal meski hubungan dan orang yang dicintai tak lagi bisa kembali. “Di suatu tempat di masa lampau, lagu itu masih terus berputar, suaranya telah lama tiada,” ujar GANGGA.
EP ini melibatkan produser Spathies yang berbasis di Los Angeles, yang mengerjakan dua lagu, serta Will Mara, yang mengerjakan satu lagu lainnya. Rilisan ini juga terhubung dengan album GANGGA sebelumnya melalui lagu “Blue Jeans” dan “Whiskey Bottle,” sekaligus meneruskan benang merah emosional dari karya-karyanya terdahulu.
“Dear April” berangkat dari perasaan telah memberikan segalanya dalam sebuah hubungan, tetapi pada akhirnya tetap ditinggalkan. Pandangan sang narator yang penuh harapan terhadap hubungan itu terasa ironis karena mungkin hanya ia sendiri yang melihatnya demikian. Dalam lagu ini, “April” menjadi simbol cinta. Ia berharap suatu hari bisa kembali percaya pada cinta dan menemukan kemampuan untuk mencintai lagi.
“I Will” ditulis untuk seseorang yang sudah tiada. Lagu ini menyuarakan kerinduan untuk berbicara dengannya lagi, sekaligus menyadari bahwa kini mereka berada di dunia yang berbeda. Ada penyesalan tentang hal-hal yang mungkin bisa dilakukan saat masih ada waktu, berusaha menyelamatkannya atau memperlakukannya dengan lebih baik sebelum ia meninggal.
Sebagai focus track, “Moonlight” menghadirkan kerinduan itu dalam sebuah pertemuan yang terasa seperti mimpi. Lagu ini menyatukan kenangan tentang hubungan mereka dengan harapan sang narator untuk bisa bertemu sekali lagi di bawah sinar bulan.
EP ini hadir dengan arahan visual bergaya dokumenter yang intim. Potret, ruang-ruang sunyi, dan benda-benda yang rusak menjadi jejak emosi yang pernah dijaga, menggambarkan kerentanan dan keterikatan yang belum terselesaikan dalam lagu-lagunya.
