Setelah bergerak melalui berbagai fase personal dalam beberapa tahun terakhir, Jubilee kembali dengan single terbaru berjudul “Lebih Dari Satu.” Ditulis pada tahun 2025 dan diproduseri oleh IKIW, lagu ini akan menjadi bagian dari album penuh Jubilee yang akan datang. Karya ini juga menjadi lagu berbahasa Indonesia kedua yang ia rilis—sekaligus menandai arah artistik yang terasa lebih matang dan reflektif.
"Lebih Dari Satu” tidak lahir dari peristiwa besar, melainkan dari satu kesadaran yang datang perlahan: bahwa dalam hubungan tertentu, kita tidak pernah benar-benar menjadi satu-satunya. Jubilee menceritakan bahwa lagu ini berangkat dari pengalaman berada di ruang yang ambigu—ketika kedekatan terasa nyata, namun komitmen tidak pernah benar-benar ada. Dari pengalaman tersebut, ia tidak menulis dengan nada menyalahkan, melainkan dari jarak emosional yang lebih jernih. Yang tersisa bukan lagi kemarahan, tetapi penerimaan yang sunyi.
"Di fase ini, aku nggak lagi tertarik membesar-besarkan luka,” ujar Jubilee. “Yang menarik justru momen ketika semuanya sudah terasa jelas, dan kita memilih pergi tanpa perlu drama. Ada ketenangan di situ.” Melalui lirik seperti ku pikir ku satu, ternyata salah satu, “Lebih Dari Satu” menangkap rasa kehilangan yang lebih subtil—tentang ekspektasi yang runtuh tanpa ledakan, tentang perasaan yang pelan-pelan kehilangan tempatnya. Produksi minimal dari IKIW memperkuat atmosfer tersebut: ruang yang luas, intim, dan membiarkan emosi hadir tanpa didorong berlebihan.
Single ini juga menjadi penanda suasana baru dalam semesta musikal Jubilee. Jika sebelumnya karya-karyanya terasa lebih reaktif dan emosional, fase kali ini hadir dengan energi yang lebih tenang dan dewasa—lebih banyak refleksi daripada reaksi, lebih banyak kejujuran daripada dramatisasi. Dari pengalaman yang membentuk beberapa waktu terakhir, Jubilee kini menulis dari sudut pandang yang berbeda: bukan lagi dari tengah luka, melainkan dari jarak setelahnya. “Lebih Dari Satu” menjadi salah satu potret dari fase tersebut—sebuah ruang baru di mana kehilangan tidak lagi terasa tragis, melainkan bagian dari proses memahami diri dan batas yang kita miliki.
Sebagai bagian dari album mendatang, lagu ini memperlihatkan bagaimana Jubilee semakin leluasa menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan cerita yang personal namun dekat dengan banyak pengalaman generasi saat ini: relasi yang tidak pasti, keterikatan yang setengah, dan keberanian untuk memilih diri sendiri ketika kejelasan tak pernah datang.
Dengan “Lebih Dari Satu,” Jubilee tidak menawarkan drama patah hati. Ia menawarkan sesuatu yang lebih tenang—dan mungkin lebih relevan: kejernihan. Tentang menyadari posisi kita dalam cerita orang lain. Dan tentang memilih keluar sebelum kita kehilangan diri sendiri.
