Na Willa adalah film keluarga berlatar Surabaya tahun 1960-an yang mengajak penonton melihat dunia dari sudut pandang seorang anak kecil. Dengan nuansa hangat dan penuh nostalgia, film ini menghadirkan potret kehidupan kampung yang sederhana namun kaya makna. Lewat mata Willa, hal-hal kecil terasa begitu besar dan penuh keajaiban.
Willa adalah gadis kecil berusia enam tahun yang aktif, imajinatif, dan penuh rasa ingin tahu. Hari-harinya diisi dengan bermain bersama teman-teman di gang rumahnya, mendengarkan lagu dari radio, serta menciptakan petualangan dari hal-hal sederhana. Dunia kecilnya terasa lengkap dan membahagiakan.
Namun, perubahan mulai datang ketika sahabatnya mengalami musibah dan teman-temannya satu per satu mulai masuk sekolah. Willa yang belum sepenuhnya memahami arti kehilangan mulai merasakan sepi yang asing. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dunia di sekitarnya perlahan berubah.
Keinginan untuk kembali merasakan kebersamaan mendorong Willa mengambil langkah besar dalam hidupnya: masuk taman kanak-kanak. Di sana, ia belajar tentang pertemanan baru, keberanian, dan arti tumbuh. Perjalanan ini menjadi proses penting dalam memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan.
Dengan sinematografi yang lembut dan cerita yang menyentuh, Na Willa bukan hanya kisah tentang masa kecil, tetapi juga tentang kenangan yang membentuk siapa diri kita. Film ini menghadirkan refleksi hangat bagi anak-anak maupun orang dewasa, mengingatkan bahwa di balik kesederhanaan masa kecil, tersimpan pelajaran hidup yang tak ternilai.
