Pemanfaatan AI dalam pendidikan kini mulai diterapkan di lingkungan sekolah. Siswa SMA Sint Louis Semarang mendapat kesempatan belajar menggambar dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) melalui kegiatan bertajuk “Pengoptimalan AI dalam Keterampilan Gambar”. Program ini diinisiasi oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang tergabung dalam komunitas Future AI Revolution (FAIR Team) untuk meningkatkan literasi digital pelajar di era teknologi generatif.
AI Generatif dan Kreativitas Digital Pelajar
Dalam lokakarya ini, peserta belajar memahami konsep AI generatif dan bagaimana teknologi dapat membantu mereka mengembangkan kreativitas digital siswa. Melalui aplikasi seperti DALL-E dan Adobe Firefly, siswa dilatih untuk menghasilkan karya ilustrasi dengan memadukan ide manusia dan algoritma kecerdasan buatan.
“Kami ingin para pelajar melihat AI untuk kreativitas siswa bukan sebagai ancaman, melainkan peluang,” ujar Ryan Kaorta, perwakilan FAIR Team. “Teknologi ini bisa membantu memperluas ide dan mempercepat proses kreatif.”
Etika Penggunaan AI dan Kolaborasi Kampus–Sekolah
Selain praktik, kegiatan ini menekankan etika penggunaan AI dan pentingnya menjaga orisinalitas dalam era digital. Menurut Sisilia Kiswanti, guru seni budaya SMA Sint Louis, “Siswa perlu memahami cara memakai AI secara bertanggung jawab agar tetap menghargai karya manusia.”
Program ini menjadi contoh kolaborasi positif antara kampus dan sekolah dalam memperkuat AI dalam pendidikan. Ke depan, mahasiswa Udinus dan Future AI Revolution berencana memperluas kegiatan ini ke sekolah lain di Semarang sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi digital pelajar Indonesia.
